Kenapa desainer butuh halaman, bukan hanya berkas
Perekrut di bidang kreatif menilai dengan mata sebelum membaca. Halaman web memberi ruang untuk itu: karya tampil dalam ukuran yang layak, tautan ke studi kasus bisa diklik, dan tampilannya menyesuaikan layar HP maupun laptop.
Halaman web juga jadi bukti langsung. Cara kamu menata hierarki, memilih warna, dan mengatur ruang kosong di halamanmu sendiri sudah merupakan sampel kerja, terutama untuk peran product designer dan UI/UX.
Yang tetap dibutuhkan: versi PDF untuk portal lowongan yang mewajibkan lampiran berkas. Keduanya bukan pilihan salah satu, dan di Jobskit.app keduanya mengambil data dari profil yang sama.
Memilih karya yang ditampilkan
Portofolio yang meyakinkan bukan yang terbanyak, tapi yang terpilih. Tiga sampai enam karya dengan konteks jelas mengalahkan dua puluh gambar tanpa penjelasan.
- Untuk tiap karya, sebut kliennya atau konteksnya, masalah yang diselesaikan, peranmu, dan hasilnya.
- Sebutkan peranmu apa adanya kalau proyeknya kerja tim. Perekrut menghargai kejujuran soal kontribusi.
- Letakkan karya terkuat paling atas, bukan yang terbaru, kecuali yang terbaru memang yang terkuat.
- Cantumkan alat kerja yang benar-benar kamu pakai sehari-hari, bukan semua yang pernah kamu buka.
Menjaga halaman tetap terbaca
Godaan terbesar di halaman kreatif adalah menambah efek sampai isinya tenggelam. Perekrut biasanya membuka tautanmu di sela pekerjaan lain, sering dari HP, dan hanya punya beberapa detik untuk memutuskan lanjut menggulir atau tidak.
Maka bagian teratas harus langsung menjawab: kamu siapa, kamu mengerjakan apa, dan bagaimana menghubungimu. Sisanya boleh bermain. Nama besar, satu baris posisi, satu tombol kontak, lalu karya.
Perhatikan juga kontras dan ukuran huruf. Tema gelap terlihat mahal di layar besar, tapi teks abu-abu tipis di atas hitam sulit dibaca di layar HP yang terang. Semua template Jobskit.app punya varian palet, jadi kamu bisa memilih yang kontrasnya paling aman.